Layaknya Kopi

Menikmati secangkir kopi selalu memberikan banyak filosofi tentang irama petualangan hidup. Menikmati kopi bukan hanya tentang menyeruput rasa pahit dan manis yang menyatu. Tetapi juga diharuskan untuk belajar memaknai arti setiap seruputan kopi tersebut.

Rasa manis dan pahit merupakan dua elemen yang tak terpisahkan dalam menyajikan secangkir kopi. Bahkan secara sengaja, pahit dan manis itu dileburkan atau diaduk agar membentuk perpaduan rasa yang baru dan seimbang. Tapi sering, rasa baru yang ditawarkan selalu menuai jawaban “kata pahit”.

Pahit adalah suatu rasa yang tidak sedap, seperti rasa empedu, tidak menyenangkan hati, menyedihkan, sebuah gambaran kesukaran dan kesusahan. Tak sedikit orang yang selalu menghindari,menolak bahkan memberontak kala kepahitan itu diberikan. Padahal, pahit yang disajikan harusnya membuat kita lebih dekat dengan Pencipta dengan harapan Dia memberikan kemampuan untuk menikmati rasa pahit tersebut.

Sedangkan manis adalah suatu rasa yang enak, seperti gula, madu.  Manis itu menyenangkan dan indah. Semua orang mendambakan  rasa ini, bahkan berlomba-lomba untuk mendapatinya. Karena kenikmatan, rasa manis ini mampu menyulap makhluk mulia menjadi lupa akan dirinya, bahkan tak sedikit yang mati karena rasa manis tersebut (diabetes bro). Sama halnya seperti semut yang mati karena rasa manis tersbut. Bukankah seharusnya, rasa manis itu membuat makhluk mulia itu bersyukur dan lebih mendekatkan diri pada Pencipta atas nikmat dan keindahan yang telah Dia berikan.

Makhluk mulia itu harusnya meleburkan pahit dan manis secara seimbang dengan DOA, agar kehangatan dan kenikmatan rasa baru tersebut dapat dinikmati dengan rasa bersyukur.

“Karena pahit dan manis melebur dalam kehangantan, sama seperti kopi”

Akan tetapi,tantangan orang percaya adalah merubah yang pahit menjadi manis, dan harus mampu untuk merubahnya.