Bakti Rimbawan

Judul yang sangat sederhana, Bakti dan Rimbawan. Jika diartikan judul ini merupakan pengorbanan yang diiringi oleh ketulusan seseorang yang bergelut dibidang atau yang berlatar belakang kehutanan. Ketulusan dalam pengorbanan tersebut merupakan bukti bahwa slogan tentang “Kehutanan Adalah Sesuatu Yang Sangat Indah Dan Mulia” adalah benar. Hal ini, saya benarkan karena seorang Rimbawan bukan hanya mengelola dalam pemanfaatan hutan dan yang terkandung didalamnya, tetapi juga mengabdikan diri kepada manusia yang tinggal disekitar wilayah pengelolaan pemanfaatan hutan itu sendiri.
Saya tidak tahu pasti, apa yang melatarbelakangi dibentuk dan dilaksanakannnya program ini. Tetapi secara retorika, latar belakangnya adalah minimnya sumber daya manusia dibidang kehutanan baik itu secara kualitas maupun kuantitas dan juga membuka lapangan pekerjaan bagi lulusan Kehutanan. Dan hal ini, juga saya benarkan, mengingat sumber daya hutan yang sangat besar dan diiringi dengan laju pemanfaatan yang sangat tinggi pula. Sehingga, para rimbawan tersebut dibutuhkan untuk merefleksikan ilmu dan pengetahuan mereka dalam tugas ini.
Nilai Investasi dan Kerugian
Program Bakti Rimbawan merupakan salah satu bukti hasrat Pemerintah dalam upaya pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Sejak tahun 2014, bukti nyata yang diselengarakan pemerintah yaitu program Bakti Sarjana Kehutanan (BASARHUT) dengan total 80 orang Sarjana Kehutanan terbaik Indonesia. Saya katakan terbaik karena mereka merupakan Sarjana Kehutanan yang dipilih sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh Kemeterian Kehutanan untuk berkontribusi dalam mengemban tugas mulia tersebut. Pada tahun 2015 Kementerian Kehutanan melakukan hal yang sama namun tidak dibatasi oleh latar belakang pendidikan Kehutanan. Sehubungan dengan hal tersebut, BASARHUT diganti menjadi Bakti Rimbawan. Penerimaan dengan jumlah 800 orang dengan system kontrak 2 tahun yang ditempatkan di KPH seluruh Indonesia.
Menurut pemikiran saya, disini ada dua sisi yang saya pikirkan. Pertama, Ini merupakan nafsu yang berlebihan dan Kedua, program Bakti Rimbawan dibutuhkan saat ini. Mengapa saya katakan nafsu yang berlebihan? Karena harus dievaluasi kinerja BASARHUT sebelumnya apakah biaya dan fasilitas mulai dari pelatihan, transportasi dan upah yang telah diberikan oleh Kementerian Kehutanan telah impas terhadap kontribusi yang diberikan BASARHUT tersebut? Jawabannya saya tidak tahu. Namun realitanya, program tersebut diadakan pada tahun selanjutnya hingga tahun 2016. Biaya yang dikeluarkan pemerintah pada BASARHUT, perkiraan saya yaitu sekitar Rp 6 M hingga masa kontrak selama 2 tahun berakhir. Luas biasa, bukan? Ditambah lagi pada tahun 2015 dengan total 800 orang, dan biaya yang dikeluarkan yakni sekitar Rp 58 M selama 2 tahun. Itu artinya selama 3 tahun kementerian Kehutanan menginvestasikan uang sekitar 64 M hingga 31 Desember 2016. Nilai ini belum termasuk untuk Bakti Rimbawan yang penugasan tahun 2016 dan Bakti Rimbawan yang memperpanjang kontrak Tugas. Saya mengakui, bahwa nilai yang saya tulis ini tidak mempunyai bukti dan data yang real dengan catatan Kementerian Kehutanan. Tetapi menurut pemikiran saya, nilai tersebut benar, bahkan jauh lebih kecil dengan nilai yang sebenarnya.
Pertanyaannya masih sama dengan pertanyaan sebelumnya. Investor mana, yang rela menginvestasikan uang sebanyak itu untuk sebuah kegiatan/program yang nyata tidak memberikan untung?
Penyebab
Lantang mengatakan hal tersebut, dikarenakan saya terlibat dalam program Bakti Rimbawan pada tahun 2015 hingga 2016. Sebenarnya, 3 bulan saya menjalani sebagai bakti Tenaga Bakti Rimbawan. Keinginan untuk mengundurkan diri sudah terbesit di pikiran saya. Bukan, dikarenakan tugas atau pekerjaan yang diberikan tidak sanggup dikerjakan. Namun karena tugas tersebut tidak terlaksana sama sekali dan kepuasan dalam bekerja tidak ditemukan. Kepuasan bekerja?

Lah, wong gak ada bekerja.
Artinya DATANG, DUDUK DAN PULANG. Meskipun sebenarnya, di dalam RPJP telah tertuang kegiatan yang akan dilaksanakan setiap tahunnya. Jika merujuk pada kegiatan tersebut maka nilai investasi diatas sudah seharusnya tercapai bahkan lebih.
Padahal, KPH tempat penugasan saya merupakan salah satu KPH terbaik di Indonesia katanya. Itu artinya, jika itu merupakan salah satu terbaik, pertanyannya selanjutnya, Bagaimana KPH yang baru lahir? Bisa diterima, asalkan kegagalan tersebut dijadikan pelajaran untuk membentuk system yang baru. Nyatanya, yang saya lihat, perbaikan system tersebut belum ada dilakukan. Sehingga, nilai investasi semakin meningkat dan terus berlangsung, namun nilai kerugian juga semakin meningkat.
Ada beberapa penyebab utama kerugian investasi tenaga Bakti Rimbawan tersebut; Pertama, tidak ada kesempatan yang diberikan untuk berkreasi, dalam artian jiwa jiwa muda yang masih melekat erat tertanam dan dipenuhi oleh ide-ide yang ada pada diri Tenaga Bakti Rimbawan tidak pernah tertuangkan. Sehingga ide tersebut terkubur oleh system yang telah ada. Kedua, Tidak adanya genjotan dari pimpinan KPH, layaknya seperti main yoyo artinya semakin kuat leparan pimpinan maka putaran juga akan semakin meningkat. Sehingga hal ini juga membentuk karakter baru bagi tenaga Rimbawan untuk mengikuti system kerja di pemerintahan yang sebagaimana umumnya dan menikmati system tersebut. Ketiga, karena telah menikmati system kerja yang ada maka para Bakti Rimbawan sebagian besar melakukan pelaporan setiap bulan/triwulan/semester dan tahunan dengan menghayal pekerjaan yang akan dilaporkan ke Kementerian Kehutanan. Keempat, evaluasi yang dilakukan oleh KLHK tidak relevan dijadikan sebagai patokan kinerja Tenaga Bakti Rimbawan, karena system penilaian yang diterapkan berupa beberapa pertanyaan, salah satunya yang menempel diingatan dan membuat terbahak-bahak ketika mengingat “Apa yang dimaksud dengan Tata Batas?”. Dan Kelima, KKPH tidak pernah melakukan evaluasi terhadap kinerja tenaga Bakti Rimbawan, dalam artian ketika tenaga Bakti Rimbawan tidak mampu memberikan kontribusi apapun, maka hal ini bisa dilakukan pelaporan oleh KKPH kepada KLHK untuk memutus atau memrikan peringatan terhadap individu tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi penyebab-penyebab kegagalan tersebut yang bisa ditelanjangi, namun sama saja saya mempermalukan diri saya sendiri. Sama halnya ketika saya mengatakan orang lain kencing dalam celana, saya sendiri juga melakukannya.

Solusi
Melihat dan mengalami realita tersebut membentuk pemikiran yang realistis, namun karena realistis masih dibawah optimis, maka harus memakasa diri untuk berpikir optimis dengan beberapa solusi yang harus diterapkan untuk membalikkan kerugian tersebut menjadi keuntungan yaitu melalui; Petama, setiap KKPH harus mampu membaca karakter setiap Tenaga Bakti Rimbawan dan mengarahkan dalam hal atau bidang apa yang harus digeluti individu tersebut. Kedua, Pada saat seleksi penerimaan Tenaga Bakti Rimbawan harus dilakukan pemahamam terhadap RPJP setiap KPH yang dituju, sehingga mampu membuat program kerja yang harus dilakukan dan dicapai apabila diterima sebagai tenaga Bakti Rimbawan, Ketiga, Surat Perjanjian Kontra yang lebih tegas terhadap target yang harus dicapai selama masa kontrak, apabila tidak memenuhi target sesuai dengan program kerja yang disetujui. Maka dilakukan peringatan dan atau Pemutusan Kontrak dan Keempat, evaluasi terhadap kinerja per triwulan atau per semester sebagaimana program kerja yang diajukan sebelumnya.