HUBUNGAN ILMU PERLINDUNGAN HUTAN DENGAN ILMU LAIN

Fisiologi tumbuhan adalah pengetahuan yang sangat erat hubungannya dengan perlindungan hutan.
Penyakit telah didefinisikan sebagai proses fisiologis yang abnormal, 
sehingga ilmu penyakit tumbuhan banyak berkaitan dengan proses fisiologis yang abnormal. 
Contoh: kekurangan unsur mikro seperti Mn (mangan), Zn (seng) dan Bo (boron),
terganggunya proses fotosintesis, kerusakan pembuluh kayu dsb. akan menyebabkan terjadinya gejala penyakit.

Ilmu anatomi dan morfologi berperan penting dalam perlindungan tanaman. 
Sifat-sifat anatomi dan morfologi tanaman berpengaruh terhadap serangan patogen, 
begitu juga serangan patogen berpengaruh terhadap anatomi dan morfologi tanaman.
Contoh: perubahan warna dan bentuk bagian tertentu dari tanaman akibat serangan patogen seperti bercak daun,
kanker batang, busuk akar dsb. Dengan adanya serangan patogen, tanaman dapat membentuk jaringan
 pelindung untuk mempertahankan diri dari meluasnya serangan.

Penggunaan ilmu genetika dalam perlindungan tanaman semakin banyak dilakukan,
karena adanya sifat tanaman terhadap serangan patogen, yaitu rentan dan resisten.
Dengan ditemukannya hukum Mendel, maka orang dapat merekayasa tanaman dari rentan menjadi resisten
agar diperoleh produksi yang tinggi. Selain tanamannya yang direkayasa,
patogennya juga bisa direkayasa agar tidak berkembang menjadi banyak, misalnya dengan melepaskan individu-individu serangga yang mandul yang nantinya akan berkopulasi dengan yang normal, 
sehingga akan menghasilkan keturunan yang lebih banyak mandul daripada yang normal.

Taksonomi dan geografi tumbuhan juga berperan penting dalam perlindungan tanaman.
Dengan diketahuinya hubungan kekerabatan suatu tumbuhan, maka akan dapat dilakukan persilangan,
sehingga diperoleh tanaman yang unggul, yaitu berproduksi tinggi dan tahan terhadap penyakit. 
Jenis tanaman yang berasal dari suatu tempat tertentu mungkin lebih tahan terhadap penyakit daripada
tanaman yang endemik atau sebaliknya. Letak suatu tapak juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan patogennya, 
seperti perbedaan tinggi tempat dari permukaan laut, perbedaan kondisi iklim, dsb.

Ilmu biokimia merupakan pengetahuan yang cepat berkembang dan mempunyai sumbangan yang besar untuk 
menerangkan proses yang abnormal dalam gangguan tanaman. Peranan toksin dalam perkembangan gejala merupakan
masalah biokimia yang sangat menarik, terutama dalam hal penyakit layu. Banyak ahli penyakit tumbuhan berpendapat
bahwa toksin adalah penyebab penyakit layu (Gäumann, 1954). Pekerjaan biokimia yang ada hubungannya dengan ketahanan tanaman telah 
banyak dilakukan seperti isolasi asam protocatechuat dan catechol dari kulit luar bawang bombay yang mempunyai pigmen berwarna
(Walker dan Stahmann, 1955).
Bawang bombay semacam ini mempunyai ketahanan terhadap Colletotrichum circinans (Berk.) Vogl. 
Banyak jenis biokimia yang dihasilkan oleh tumbuhan berguna untuk bahan obat-obatan bagi manusia.

Ilmu kimia berperan penting dalam perlindungan tanaman. Perlakuan benih dengan fungisida sekarang sudah umum dilakukan terutama
terhadap biji-bijian guna mencegah penyakit lodoh (damping off).
Protektan biji seperti Thiram dan Captan telah banyak dipakai di samping senyawa Cu (tembaga).
Antibiotika seperti rimocidine telah dapat diisolasi dari spesies Streptomyces tertentu yang menunjukkan sifat sistemik,
yaitu dapat mengadakan penetrasi melalui kulit biji sehingga dapat membunuh patogen yang ada di dalamnya seperti Ascochyta pisi pada
biji kacang kapri (Dekker, 1957). Memberantas penyakit karena jamur terbawa tanah tetap masih mengalami kesukaran,
namun beberapa jenis fungisida baru seperti N-metil ditiokarbamat dapat memberi hasil yang baik.
Perlakuan tanah dengan nematisida seperti DD (dichlorpropen-dichlorpropan) memberikan hasil yang sangat baik untuk membunuh nematoda.

Mikrobiologi adalah pengetahuan yang menjadi induk ilmu perlindungan tanaman, karena penyebab penyakit kebanyakan dari jenis-jenis mikroorganisme. Di antara jenis-jenis mikroorganisme ada yang bersifat parasit terhadap tumbuhan dan hewan. 
Yang bersifat parasit terhadap hewan (serangga) dapat dimanfaatkan untuk pemberantasan secara biologis begitu juga 
yang bersifat parasit terhadap parasit lain (disebut hiperparasit).

Sumber:

Bahan Ajar  Mata Kuliah:

Ilmu Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s