Seleksi (Pemuliaan Pohon)

Seleksi adalah proses dimana individu – individu dengan sifat – sifat tertentu lebih disukai untukdiperkembangbiakan. Sifat – sifat yang biasanya diselesksi ialah : tinggi pohon yang unggul, diameter pohon yang unggul, daya lepas cabang yang baik, batang yang lurus (tidak bengkok atau melilit), percabangan yang ringan dan mendatar (pada conifer), tajuk yang sempit, padat dan berbentuk baik, tahan terhadap hama dan penyakit, tahan kekeringan dan mempunyai kwalitas kayu yang baik. Seleksi ini hanya akan efektif terhadap sifat – sifat yang dipengaruhi susunan genetic (sifat- sifat genetika) terutama sifat – sifat genetic yang Additif, misalnya tinggi pohon, berat jenis, bentuk batang, dan lain – lain.
Seringkali seleksi harus dilakukan dalm tegakan hutan alam dan hutan tanaman pada keadaan lingkungan yang berbeda – beda, karenanya perlu diusahakan untuk mengurangi pengaruh lingkungan.
Caranya adalah sebagai berikut:

  • Pilihlah tegakan – tegakan yang terbaik dimana seleksi akan dilakukan, hal ini untuk mengurangi keragaman genotype antar tegakan.
  • Kalau mungkin, seleksi hanya dilakukan dalam tegakan – tegakan yang uniform dalam daur, jarak (spacing) dan keadaan tempat tumbuh. Dalam hubungan ini seleksi lebih efisien dala hutan tanaman dari pada hutan alam.
  • Kalau mungkin, penggunaan “cheek trees” (pohon – pohon pembanding) yaitu beberapa pohon yang baik didalam tegakan sebagai pembanding terhadap pohon (pohon – pohon) plus. Dalam hutan tanaman, ini akan mudah dilakukan.
  • Dalam melakukan seleksi, batasilah pada sifat – sifat yang penting saja. Jika seleksi menyangkut terlalu banyak sifat, hasilnya mungkin takkan ada, karena beberapa sifat (traids) mungkin berkorelasi negative, kecuali jika dipergunakan suatu “selctions index” dimana sifat – sifat di “weighted” terhadap nilai ekonomi, heritabilitas, dan lain – lain.

Konsep dasar heritabilitas
Nilai pengamatan terhadap sifat tertentu dari suatu individu yang dapat diukur dinamakan fenotif individu tersebut. Nilai fenotipa dari suatu individu adalah hasil bersama dari pengaruh – pengaruh genotipa di lingkungan. Hubungan tersebut dapat diucapkan menjadi linier aditif (Falooner, 1967):
P = G + E
Dimana : P = nilai fenotipa
G = nilai genotipa
E = simpangan lingkungan, yaitu perubahan yang timbul pada nilai fenotipa disebabkan oleh bervariasinya keadaan lingkungan.
Variasi fenotipanya yang juga disebut ragam total dan merupakan jumlah dari ragam genetic total dan ragam lingkungan, dengan anggapan tidak ada interaksi antara genotipa dengan lingkungan. Variasi genetic diduga oleh ragam genetic total yang terdiri dari ragam genetic aditif dan ragam non aditif. Sedangkan variasi lingkungan diduga oleh ragam lingkungan. Hal tersebut diatas dapat dinyatakan sebagai berikut:
Б2 P = б2G + б2E
= б2A + б2D + б2I + б2E

Dimana : Б2 P : ragam fenotipa (ragam total)
б2G : ragam genetic total
б2E : ragam genetic aditif
б2A : ragam genetic dominasi
б2D : ragam genetic epistasi
б2E : ragam lingkugan
Cara – cara seleksi

  • Seleksi massa

Dimuka telah disebutkan bahwa cara seleksi yang paling sederhana adalah seleksi massa ( massa selection) yang didasarkan atas penelitian sifat – sifat phenotypic individual dari pohon – pohon suatu populasi. Cara seleksi ini sering dipergunakan pada tahap – tahap permulaan dari program pemuliaan, dan juga pada aced production area untuk menetapkan pohon – pohon induk yang sifat – sifat (phenotypic) yang unggul.
Seleksi massa pada daerah penghasil biji (seed production area)
Dari daerah penghasil biji dikumpulkan biji – biji dari induk – induk yang unggul, dan ditanam di hutan tanaman. Anakan semainya (seedlings) tidak dipisahkan menurut pohon – pohonnya. Jiksa sifat yang bersangkutan mempunyai heritabilitas yang tinggi, hasil yang akan dicapai akan sama dengan hasil suatu program pemuliaan yang lebih sulit (Wright, 1962).
Seleksi massa pada program pemuliaan
Biji – biji dikumpulkan dari induk – induk sebagai hasil penyerbukan bebas (openpolination) atau penyerbukan terkontrol (control pollination). Pada penyerbukan bebas, biji dikumpulkan dari induk – induk yang terseleksi lalu ditanam di kebun biji F1, dijarangkan untuk mendapatkan pohon – pohon yang terbaik, lalu dikumpulkan untuk menanam generasi F2 (Wright, 1962). Seleksi diulangi terhadap generasi F2 tersebut. Beberapa kebun biji ini adalah hasil seleksi ini. Cara ini relative murah dan tanaman generasi F1 itu merupakan hutan tanaman biasa. Jika pekerjaan ini dilakukan secara besar – besaran, asalkan yang bersangkutan mempunyai heritabilitas dan diferensial seleksi yang tinggi, kemajuan genetiknya akan besar. Untuk menetapkan kemajuan genetic tersebut perlu dilakukan uji keturunan.
Pada penyerbukan terkontrol, biji dikumpulkan sebagai hasil perkawinan dari induk – induk jantan dan betina yang terseleksi, ditanam kedalam kebun biji F1, dijarangkan untuk mendapatkan pohon – pohon terbaik, lalu dikumpulkan biji untuk menanam generasi F2 secara besar – besaran/komersil (Wright, 1962). Dalam program ini perlu diadakan uji keturunan. Kualitas biji yang dihasilkan sudah tentu lebih baik dari cara yang terdahulu (Wright, 1962).

  • Seleksi family

Pada seleksi massa, biji yang dikumpulk\an dari pohon – pohon induk tidak dipisah – pisahkan menurut induknya masin – masing, tetapi pada seleksi family ini biji dan anak – anaknya dipisah – pisahkan menurut induk betinanya masing – masing, agar dapat menilai keadaan family/keluarganya. Ada dua macam family, yaitu family Halfsib (saudara tiri), jika keturunannya memiliki satu induk betina yang sama, dan family full – sib (saudara kandung), jika keturunannya berasal dari dua induk, jantan dan betina yang sama.

  1. Seleksi saudara tiri (family Half – sib) Biji dikumpulkan dari induk betina yang terseleksi, dipisahkan biji dan anakannya menurut induk betina masing – masing, adakn uji keturunan pada generasi F1, jarangkan untuk mendapatkan family – family atau individu – individu di dalam family yang terbaik, kumpulkan biji untuk membuat generasi F2 secara besar – besaran (Wright, 1962). Seleksi diulangi dengan uji keturunan pada generasi F2 ini tanaman untuk uji keturunan dapat dijadikan kebun biji . Hasil penyerbukan terkontrol dengan pollen mix Pohon – pohon induk betina yang terseleksi dibuahi dengan cara penyebukan terkontrol dengan pollen mix (campuran butir sari) berasal dari beberapa pohon induk jantan yang teseleksi. Kumpulkan biji, pisahkan biji dan anakan menurut induk betina masing – masing dan adakan uji keturunan ada generasi F1, jarangkan untuk mendapatkan family terbaik atau individu terbaik dalam family (Wright, 1962). Perbedaan cara ini dengan yang sebelumnya adalah mengganti penyebukan angin oleh berbagai induk jantan yang tidak terseleksi dengan penyebukan terkontrol dengan campuran butir sari niduk – induk jantan yang terseleksi.
  2. Seleksi saudara kandung (family full – sib) Pohon – pohon induk betina yang terseleksi dibuahi secara penyerbukan terkontrol dengan butir sari dari induk – induk jantan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s