Sistem Penginderaan Jauh

Seperti yang telah disebutkan Avery ( 1990 ), bahwa sistem penginderaan jauh dibedakan atas sistem fotografik dan non grafik.
Sistem fotografik memiliki keunggulan sederhana, tidak mahal, dan kualitasnya baik.
Sistem elektronik kelebihannya memiliki kemampuan yang lebih besar dan lebih pasti dalam membedakan objek dan
proses analisisnya lebih cepat karena menggunakan komputer.

Interpretasi citra adalah perbuatan mengkaji foto udara atau citra dengan maksud untuk mengidentifikasi 
objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Di dalam pengenalan objek yang tergambar pada citra, 
ada tiga rangkaian kegiatan yang diperlukan,
yaitu deteksi, identifikasi, dan analisis. Deteksi ialah pengamatan atas adanya objek,
identifikasi ialah upaya mencirikan objek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup,
sedangkan analisis ialah tahap mengumpulkan keterangan lebih lanjut. 
Interpretasi citra dapat dilakukan secara visual maupun digital.

1. Interpretasi visual

Interpretasi visual dilakukan pada citra hardcopy ataupun citra yang tertayang pada monitor komputer.
Interpretasi visual adalah aktivitas visual untuk mengkaji gambaran muka bumi yang tergambar
pada citra untuk tujuan identifikasi objek  dan menilai maknanya.

Anonim ( 1990 ) menjelaskan bahwa sistem fotografik yang menghasilkan foto udara, 
interpretasi citra dapat dilakukan secara visual dengan mendasarkan pada beberapa unsur penting yaitu rona, 
warna, ukuran, bentuk, tekstur, pola tinggi bayangan,

situs dan asosiasi serta konvergensi bukti.

a. Rona dan warna

Rona ialah tingkat kegelapan atau kecerahan objek pada citra. Adapun warna adalah wujud yang tampak oleh mata.
Rona ditunjukkan dengan gelap-putih. Ada tingkst kegelapan warna biru, hijau, merah, kuning dan jingga.
Rona dibedakan atas lima tingkat, yaitu putih, kelabu putih, kelabu, kelabu hitam, dan hitam.

Karateristik objek yang mempengaruhi rona, permukaan yang kasar cenderung menimbulkan rona yang gelap,
warna objek yang gelap cenderung menimbulkan rona yang gelap, objek yang basah/lembab cenderung menimbulkan rona gelap.
Contoh pada foto pankromatik air akan tampak gelap, atap seng dan asbes yang masih baru tampak rona putih,
sedangkan atas sirap ronanya hitam.

Tingkat gelap terangnya potret udara juga disebut density yang mana sesuai dengan daya pantul
masing-masing obyek. Menurut Howard (1996), kontras rona dan warna citra yang tegas dalam foto udara untuk identifikasinya.
Hal penting pada interpretasi visual adalah tingkatan rona bagian tepi yang akan banyak menentukan batas
objek-objek pada foto udara. Tingkatan tepi dapat dibuat bervariasi dengan tehnik pengolahan film.
Penajaman tepi (edge enhancement) cukup dikenal dalam analisis citra digital.
b. Bentuk ( shape )
Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak objek yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja,
seperti bentuk memanjang, lingkaran, dan segi empat. Contoh gedung sekolah pada umumnya berbentuk huruf I, L, U
atau berbentuk empat persegi panjang. Rumah sakit berbentuk persegi panjang.
c. Ukuran ( size )
Ukuran suatu objek sangat penting untuk dapat membandingkan berbagai objek. Ukuran objek pada potret udara berupa jarak,
luas, tinggi, lereng dan volume harus didasarkan pada skala potret udara. Menurut Howard (1996),
ukuran termasuk dalam istilah informasi kontektual selain bentuk dan letak/posisi.
Ukuran menyajikan luas daerah yang ditempati oleh kelompok individu.
Contoh rumah mukim pada umumnya lebih kecil bila dibandingkan dengan kantor atau pabrik,
ukuran lapangan sepak bola 80 m x 100 m, 15 m x 30 m lapangan tennis, 8 m x 15 m bagi lapangan bulu tangkis.

d. Kekasaran ( texture )
Tekstur adalah halus kasarnya objek pada citra.
Contoh pengenalan objek berdasarkan tekstur Hutan bertekstur kasar,
belukar bertekstur sedang, semak bertektur halus Tanaman padi bertekstur halus, tanaman tebu bertekstur sedang,
dan tanaman pekarangan bertekstur kasar. Permukaan air yang tenang bertekstur halus.

e. Pola ( pattern )
Pola adalah hubungan susunan spasial objek. Pola merupakan ciri yang menandai objek bentuk manusia ataupun alamiah.
Pola aliran sungai sering menandai bagi struktur geologi dan jenis tanah. Misalnya pola aliran trellis menandai struktur lipatan. Kebun karet, kelapa sawit dan kebun kopi memiliki pola yang teratur sehingga dapat dibedakan dengan hutan.

f. Bayangan ( shadow )
Bayangan bersifat menyembunyikan objek yang berada di daerah gelap.
Bayangan dapat digunakan untuk objek yang memiliki ketinggian, seperti objek bangunan, patahan, dan menara.

g. Situs ( site )
Menurut Howard ( 1996 ), situs memiliki dua arti yang berbeda.
Pertama, kata situs banyak digunakan di dalam kajian foto udara untuk menjelaskan tentang posisi muka bumi dari citra yang diamati dalam kaitannya dengan kenampakan-kenampakan di sekitarnya. Arti yang lebih penting,
ialah berkonotasi terhadap gabungan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan pohon.
Lereng, topografi, geologi yang digolongkan sebagai karakteristik makro sedangkan tanah dan kelembabannya,
karakteristik alami vegetasi serta ukuran pohon dapat dikatakan sebagai karakteristik mikro,
semuanya merupakan faktor yang penting di dalam mengkaji situs hutan pada citra.

h. Asosiasi ( Association )
Howard ( 1996 ) juga menjelaskan bahwa asosiasi merupakan istilah lain yang memiliki dua buah arti.
Dalam lingkup ekologi, asosiasi menunjuk pada suatu komnunitas tanaman yang memiliki sifat fisiognomi
seragam dan tumbuh pada kondisi habitat yang sama. Selain hal itu, istilah asosiasi digunakan bila beberapa objek berdekatan secara erat, dengan masing-masing objek membantu keberadaan yang lainnya.
Lebih lanjut dijelaskan Lillesand dan Kiefer ( 1990 ), asosiasi merupakan suatu bantuan yang penting dalam mengenali objek dan benda pada citra adalah dengan hubungan suatu objek dengan objek lainnya,
karena site atau lokasi suatu objek mempunyai hubungan dengan keadaan sekelilingnya.

i. Konvergensi bukti
Konvergensi bukti adalah teknik interpretasi dengan menggabungkan beberapa unsur interpretasi untuk menemukan objeknya. Misalnya pada foto udara terdapat pohon yang berbentuk bintang, dengan pola yang tidak teratur, dan ukurannya 10 meter dan tumbuh di daerah payau ( situsnya ). Sehingga dapat dilihat bahwa pohon tersebut adalah sagu.

2. Interpretasi Citra Digital
Sedangkan dalam sistem sensor non fotografik (elektronik),
Anonim (1990) menjelaskan bahwa data rekaman dari obyek disimpan pada media lainnya.
Data ukuran tersebut harus dipersiapkan melalui berbagai proses dan koreksi, seperti koreksi format,
koreksi radiometrik, koreksi geometrik, sehingga data siap untuk diproses selanjutnya.

Interpretasi citra digital dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
( software ) yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut.
Berbagai algoritma tersedia di dalam perangkat lunak tersebut yang memungkinkan
data penginderaan jauh diproses secara otomatik.
Salah satu contoh misalnya adalah menggabungkan data (3-4 band) dalam citra gabungan
dengan menggunakan filter merah, hijau dan biru ( RGB ) yang menghasilkan citra komposit
(color composite image ). Masing-masing band diberi filter yang berbeda dan menghasilkan berbagai yang berbeda.
 
Data penginderaan jauh dapat berupa citra foto dan citra digital.
Citra foto adalah gambaran rekaman suatu objek atau biasanya berupa gambaran objek pada foto.
Terdapat beberapa alasan yang melandasi peningkatan penggunaan citra penginderaan jauh, yaitu sebagai berikut :

a. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala di permukaan bumi dengan wujud dan letaknya yang mirip
dengan di permukaan bumi.
b. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala yang relatif lengkap meliputi daerah yang luas dan permanen.
c. Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambaran tiga dimensi apabila pengamatannya dilakukan
dengan stereoskop.
d. Citra dapat dibuat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi secara terestrial.

     Pengolahan citra merupakan proses pengolahan dan analisis citra yang banyak melibatkan persepsi visual.
Proses ini mempunyai ciri data masukan dan informasi keluaran yang berbentuk citra.
Istilah pengolahan citra digital secara umum didefinisikan sebagai pemrosesan citra dua dimensi dengan komputer.
Dalam definisi yang lebih luas, pengolahan citra digital juga mencakup semua data dua dimensi.
Citra digital adalah barisan bilangan nyata maupun kompleks yang diwakili oleh bit-bit tertentu.
Bit adalah unit terkecil dari data digital yaitu angka biner 0 atau 1.
Kumpulan dari data sejumlah 8 bit data adalah sebuah unit data yang disebut byte, dengan nilai 0-255.
Dalam hal citra digital nilai level energi dituliskan dalam satuan byte.
Kumpulan byte ini dengan struktur tertentu bisa dibaca oleh software dan disebut citra digital 8-bit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s