Konservasi Biologi

Dalam kenyataan yang selama ini telah dan sedang berlangsung, baik di Indonesia maupun di berbagai bagian negara di dunia, aksi atau tindakan konservasi sumber daya hayati masih bertumpu terutama pada keanekaan jenis. Alasan praktis mendasari fenomena demikian mengingat bahwa mengenali dua keanekaan biotis yang lain, baik pada tingkat yang lebih besar (keanekaan atau keragaman ekosistem) maupun keanekaan dalam cakupan lebih mikro (keragaman genetik) relatif lebih sulit dalam menentukan kriteria maupun pembuktiannya. Suatu ekosistem dikatakan berbeda dengan ekosistem lain harus melewati suatu pembuktian dan serangkaian kajian ilmiah, seberapa jauh keunikan rantai ekosistem yang ada (produsen maupun komsumen) terbukti menyimpan kharakter spesifik yang berbeda dengan ekosistem tetangganya. Sementara itu adanya potensi keberagaman genetik (diversitas genetik) pada suatu jenis kalau toh tidak melalui kajian laboratoris yang rinci, setidaknya harus berangkat dari evaluasi interpretatif bahwa jenis yang bersangkutan memang menguasai rentang ekologis ekstrim, baik ekstrim luas maupun ekstrim sempit.
Setidaknya dikenal ada 2 (dua) strategi konservasi jenis dan 1 (satu) strategi konservasi alternatif yang kemungkinan dapat dilakukan guna pelestarian jenis.
1. Konservasi in-situ (sering dipadankan dengan on spot)
Sering dilakukan dan dipilih oleh para pakar konservasi untuk menjaga eksistensi satu atau beberapa jenis sumber daya hayati sekaligus dengan tetap membiarkan hidup sebagaimana adanya pada habitat alamnya. Tiga hal mendasari alasan mengambil keputusan demikian, pertama jenis jenis yang dijadikan target konservasi (sering disebut target species) merupakan tumbuhan yang punya peran ekologis dominan dalam ekosistem, mempunyai toleransi sempit terhadap tempat tumbuh (possesing a spesific site) dan yang ketiga, adanya pertimbangan bahwa tingkat keamanan habitat alaminya cukup meyakinkan. Dalam kasus ini misalnya strategi konservasi anggrek hitam (Coelogyne pandurata) di Kersik Luay, Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat, yang memiliki site preference berupa ekosistem hutan kerangas. Bahwa kemudian terbukti bahwa habitat alami anggrek hitam tak dapat lagi dijamin keamanan dan eksistensinya, tentunya menjadikan perlunya evaluasi ulang terhadap strategi konservasi in-situ bagi anggrek langka tersebut.
Dalam kasus lain menyangkut konservasi sumber daya hayati fauna penyu laut (Chelonia mydas) di pulau Derawan, Sangalaki dan pulau sekitarnya misalnya, lebih pada pertimbangan eratnya keterpautan/keterkaitan antara satwa purba tersebut dengan habitat yang dipilihnya. Mamalia air endemik Kalimantan, Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) tergolong satwa yang punya toleransi sempit terhadap perubahan kualitas tempat hidup. Dengan kata lain kepekaannya cukup tinggi sehingga akan lebih kecil risikonya kalau konservasi yang dipilih tetap dengan mengutamakan kelestarian habitatnya.
Dengan kata lain kepekaan (sensitivitas) obyek konservasi dapat menjadi pertimbangan penting dalam menetapkan perlu tidaknya memilih aksi konservasi in-situ.
2. Konservasi ex-situ (sering dipadankan dengan out of spot)
Mirip namun tak identik dengan penjelasan mengenai dasar pijak konservasi in-situ, maka konservasi eks-situ banyak dilakukan dan dipilih juga karena kriteria yang cukup kuantitatif sifatnya. Sumber daya hayati pada tingkat jenis, baik vegetasi maupun fauna yang memiliki rentang sebaran geo-ekologis luas akan punya peluang untuk dilakukan konservasi eks-situ relatif lebih besar daripada jenis dengan kharakter sebaliknya. Berbagai komoditas pangan utama seperti padi, gandum dan jagung memiliki rentang ekologis yang sangat luas. Demikian juga berbagai jenis tumbuhan bawah (hutan) atau lazim disebut tumbuhan lantai hutan (understorey species) yang potensial sebagai sumber pangan subtitutif misalnya kelompok Uwi atau Huwi (Dioscorea spp.), Garut (Maranta arundinaceae Linn.) atau Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl.) dan beberapa yang lain. Berbagai sumber daya hayati sebagai sumber bahan baku obat juga memiliki rentang ekologis luas, seperti Kunyit (Curcuma domestica), Jahe (Zingiber officinale) dan beberapa yang lainnya. Ketergantungan pada faktor klimatisnya (curah cahaya kumulatif, kelembaban dan temperatur mikro) bagi jenis vegetasi lapis bawah nampaknya lebih kuat daripada tuntutan terhadap faktor edafik (tempat tumbuh). Kelompok fauna juga mempunyai kepekaan terhadap perubahan habitat secara beragam. Secara teoretis, fauna omnivor (dapat memakan segala macam sumber pakan) punya peluang dijadikan obyek konservasi eks-situ lebih berpeluang daripada nektarivor maupun raptor.
c. Konservasi circa-situ (konservasi terpadu dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya serta ekonomi, khususnya bagi masyarakat pemukim sekitar kawasan konservasi).
Sebagaimana telah menjadi kebiasaan, tumbuh anggapan di masyarakat bahwa pelaku konservasi sudah semestinya pemerintah. Dalam bidang kehutanan fenomena ini terasa kental adanya. Berbagai bentuk kawasan konservasi mulai dari sekedar taman buru hingga yang paling tertutup seperti cagar alam, hampir sebagian besar tidak mencapai target sebagaimana diinginkan. Kesadaran timbulnya rasa untuk ikut memiliki dan merasa diuntungkan seandainya konservasi berhasil belum tumbuh dan (memang) belum tumbuh dari sebagian besar masyarakat sekitar kawasan konservasi. Boleh jadi ini terkait dengan persepsi arti “keuntungan” yang belum sama antara masyarakat dengan pemerintah sebagai pelaku konservasi. Tolok ukur ekonomis secara segera/langsung nampak menjadi kriteria sederhana bagi masyarakat. Tanpa adanya pemenuhan kriteria tersebut, maka segala bentuk tindakan konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya yang dilakukan pemerintah akan dianggap mengusik kehidupan masyarakat pemukim terdekat, atau setidaknya dianggap tak bermanfaat.
Keterlibatan masyarakat dalam konservasi sumber daya hayati secara jangka panjang akan menguntungkan kedua belah fihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Dalam banyak kesempatan dialog ilmiah-sosial, konsep konservasi yang disebut terakhir sering sepadan dengan konservasi partisipatif.
Translokasi adalah penangkapan dan transfer satwaliar dari satu areal ke areal lainnya.
a. Introduksi
Introduksi adalah pelepasan satwa yang dilahirkan dari penangkaran ataupun alam ke luar daerah penyebarannya secara historis, namun demikian diperkirakan satwa dapat bertahan hidup. Hal ini dilakukan karena habitat satwa yang sebenarnya tidak dapat lagi bertahan atau tidak cocok lagi untuk reintroduksi.
Untuk alasan apapun, introduksi suatu species perlu mempertimbangkan:
Proyek introduksi sedapat mungkin dihindari, karena berpengaruh buruk terhadap sistem ekologi setempat. Selain itu kesesuaian habitat bagi satwa yang diintroduksi sulit dikaji. Sebagai alat pelestarian, introduksi dapat dipertimbangkan sebagai upaya terakhir.
Jangan mengintroduksi species yang memiliki potensi sebagai hama, pembawa penyakit berbahaya, species yang kapasitas penyebarannya tinggi atau ekologinya hampir setara dengan species lokal.
Hindari introduksi bila species lokal dapat berbuat hal yang sama.
Perlu berhati-hati agar bila diperlukan jenis eksotik tersebut dapat dikendalikan atau dibasmi.
Membuat introduksi percobaan pada kawasan sempit yang terisolasi dimana species eksotik dapat dimusnahkan bila hasil percobaan tidak memuaskan.
b. Re-Introduksi
Re-Introduksi adalah translokasi satwa, baik liar maupun tangkapan, dari satu areal ke areal lain yang masih merupakan daerah penyebarannya secara historis, dimana populasi alaminya menurun atau hilang dalam jumlah besar.
c. Re-Stocking
Re-Stocking adalah pelepasan satwa dari satu areal di mana di dalamnya sudah terdapat jenis yang sama (conspecific). Ini dilakukan jika populasi di alam mengalami penurunan dan pelepasan merupakan tambahan satwa di alam yang diharapkan sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan populasi tersebut dari kepunahan.
Augmentation (penambahan) adalah upaya melepas individu-individu ke suatu populasi untuk meningkatkan ukuran populasi tersebut maupun kumpulan lainnya. Dalam hal ini baik individu hasil penangkapan maupun penangkaran dapat dilepas.
Contoh: pendekatan headstarting yang dilakukan pada bayi penyu. Bayi-bayi ini dipelihara selama masa muda mereka yang rawan akan predator dan baru sesudah melewati masa tersebut mereka dilepas ke alam bebas.
Penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwaliar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.
Penangkaran dapat dilakukan terhadap jenis tumbuhan dan satwaliar yang dilindungi dan atau yang tidak dilindungi. Penangkaran untuk tujuan pemanfaatan jenis dilakukan melalui kegiatan:
Pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuhan secara buatan dalam lingkungan yang terkontrol.
Penetasan telur dan atau pembesaran anaknya yang diambil dari alam.

Pustaka Pilihan
Anonim. 1992. Global Biodiversity; Status of the Earth’s Living Resources. A Report Compiled by World Conservation Monitoring Centre (Editor: Brian Groombridge).
Anonim. 2001. Peraturan Perundang-undangan Lingkungan Hidup. Buku II. Dihimpun oleh Drs. Arif Djohan Tunggal, S.H. CN. Harvarindo. Jakarta.
MacKinnon, J., K. MacKinnon, G. Child dan J. Thorsell. 1993. Pengelolaan Kawasan yang Dilindungi di Daerah Tropika (Judul Asli: Managing Protected Areas in the Tropics). Alih Bahasa oleh Harry Harsono Amir. Gadjah Mada University Press.
Muehlenberg, M. 1989. Freilandoekologie. Quelle & Meyer, Heidelberg. Wiesbaden.
Owen, O. S. 1985. Natural Resource Conservation; An Ecological Approach. Macmillan Publishing Company, New York and Collier Macmillan Publishers, London.
Primack, R. B., J. Supriatna, M. Indrawan dan P. Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Sardjono, M. A. 1999. Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan. Bahan Kursus Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Mulawarman. Samarinda.
Soemarwoto, O. 2001. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan. Jakarta.
Soerjani, M., R. Ahmad dan R. Munir. 1987. Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s