PRESIPITASI DAN EVAPOTRANSPIRASI

A. Presipitasi

Endapan (presipitasi) didefinisikan sebagai bentuk air cair dan padat (es) yang jatuh ke permukaan bumi. Meskipun kabut, embun dan embun beku (frost) dapat berperan dalam alih kebasahan (moisture) dari atmosfer ke permukaan bumi, unsur tersebut tidak ditinjau sebagai endapan. Bentuk endapan adalah hujan, gerimis, salju dan batu es hujan (hail). Hujan adalah bentuk endapan yang sering dijumpai, dan di Indonesia yang dimaksud dengan endapan adalah curah hujan (Tjasjono, 1999).
Hujan merupakan salah satu bentuk presipitasi uap air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Bentuk-bentuk presipitasi lainnya adalah salju dan es. Untuk dapat terjadinya hujan diperlukan titik-titik kondensasi, amoniak, debu, asam belerang. Titik-titik kondensasi ini mempunyai sifat dapat mengambil uap air dari udara (Kartasapoetra, 1993).
Adanya awan tidak selalu dapat terjadi hujan. Butir-butir uap air hasil kondensasi uap air harus mengalami pertumbuhan butiran yang cukup besar sehingga mempunyai gaya berat turun sebagai butiran-butiran hujan. Hujan sebagian besar dihasilkan dari udara naik yang mengalami penurunan suhu (Manan dan Suhardianto, 1999).

B. Tipe dan Sebaran Hujan
Hujan sebagian besar dihasilkan dari udara naik yang mengalami penurunan suhu. Kriteria tipe hujan, yaitu :
1. Hujan konveksi/konventif, yaitu suatu proses hujan yang berdasarkan atas pengembangan dari udara yang dipanasi, jadi akan terus naik dimana pada waktu naik temperatur akan turun dan sampai suatu saat terjadi kondensasi, maka timbullah hujan (Kartasapoetra, 1993).
2. Hujan orografis/orografik, yaitu bilamana terpaksa naik karena adanya penghalang-penghalang, misalnya gunung-gunung, pada lereng-lereng gunung yang menghadap dari mana angin datang akan mempunyai hujan yang tinggi, sedangkan pada lereng sebelahnya di mana udara turun akan terjadi panas yang sifatnya kering (Kartasapoetra, 1993).
3. Hujan frontal (hujan gangguan), banyak terjadi pada daerah-daerah lintang pertengahan di mana temperatur massa udara tidak sama, akibatnya apabila massa udara yang panas naik sampai ke massa udara yang dingin akan terjadi kondensasi dan timbullah hujan (Kartasapoetra, 1993).

C. Pengukuran Curah Hujan
Curah hujan diamati dalam satuan tinggi dalam mm di permukaan bumi sebelum meresap ke dalam tanah atau mengalir di atas permukaan maupun evaporasi. Umumnya nilai curah hujan diambil dari jumlah curah hujan pada periode tertentu, sehari, sepuluh hari, sebulan, setahun, kemudian dapat pula dirata-ratakan menjadi harian, bulanan dan tahunan.
Jumlah curah hujan dicatat dalam inci atau milimeter (1 inci = 25,4 mm). Jumlah curah hujan 1 mm menunjukkan tinggi air hujan yang menutupi permukaan 1 mm, jika air hujan tersebut tidak mengalir, tidak meresap ke dalam tanah atau menguap ke atmosfer.
Hari hujan apabila jumlah curah hujan dalam sehari lebih besar atau sama dengan 0,5 mm. Derasnya hujan atau intensitas hujan adalah jumlah curah hujan dibagi dengan periode waktu seperti jumlah curah hujan per 5 menit, per 15 menit atau per 30 menit, data ini diperlukan untuk keperluan perhitungan erosi tanah.
Jumlah atau curah hujan adalah volume air hujan yang jatuh pada suatu areal tertentu. Karena itu besarnya curah hujan dapat dinyatakan dalam m3 per satuan luas, atau secara lebih umum dinyatakan dalam tinggi air yakni milimeter (mm). Besarnya curah hujan dapat dimaksudkan untuk satu kali hujan atau untuk masa tertentu seperti per hari, per bulan, per musim atau per tahun.
Jumlah hujan yang turun diukur dengan alat ombrometer. Ombrometer yang dilengkapi alat pencatat disebut ombrograph.
Macam peralatan penakar hujan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar yaitu manual (diukur pada waktu-waktu tertentu oleh pengamat) dan otomatis. Alat pengukur hujan manual contohnya penakar hujan tipe observatorium (OBS) yang hanya dapat mengetahui jumlah hujan. Dengan alat penakar hujan otomatis lebih banyak data diperoleh : jumlah curah hujan, waktu terjadinya hujan, derasnya hujan, berapa kali terjadi hujan dalam sehari semalam. Penakar hujan otomatis ada yang harian, mingguan ataupun bulanan. Untuk daerah tropika lebih baik memakai harian terutama di tempat-tempat yang curah hujannya deras (Manan dan Suhardianto, 1999).

Selain jumlah curah hujan harian, data klimatologi dapat pula berupa jumlah hari hujan dan intensitas curah hujan. Intensitas curah hujan merupakan ukuran jumlah hujan per satuan waktu tertentu selama hujan berlangsung. Hujan umumnya dibedakan menjadi 5 tingkatan sesuai dengan intensitasnya.

No. Tingkatan Intensitas (mm.menit)

1. Sangat lemah&lt 1,00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s