Risalah Beruang Madu

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan :Animalia
Filum :Chordata
Kelas :Mammalia
Ordo :Carnivora
Famili :Ursidae
Genus :Helarctos
Spesies :H. malayanus
Nama binomial
Helarctos malayanus
Sinonim
Heliarctus

Ursus malayanus Raffles, 1821
Helarctos euryspilus Horsfield, 1825
Helarctos malayanus Horsfield, 1825
Helarctos anmamiticus Heude, 1901

SIFAT-SIFAT FISIK DAN INDRA:
Beruang madu merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada
di dunia. Berat badannya berkisar antara 30 sampai dengan 65 kilogram, namun
data dari alam sangat terbatas. Beruang madu yang ada di Pulau Borneo
merupakan yang paling kecil dan kemungkinan dapat digolongkan sebagai sub-jenis
(sub-species) dengan nama H.malayanus eurispylus. Sifat-sifat fisik beruang madu
adalah sebagai berikut:
• bulunya pendek, mengilau dan pada umumnya hitam (namun terdapat pula
yang berwarna coklat kemerahan maupun abu-abu);
• mata berwarna coklat atau biru;
• hampir setiap beruang madu mempunyai tanda di dada yang unik (warnanya
biasanya kuning, oranye atau putih, dan kadang-kadang bertitik-titik);
• hidung dari beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong;
• kepalanya relatif besar sehingga dapat merupai anjing; kupingnya kecilbundar, dan dahinya yang penuh daging terkadang tampak berkerut;
• mempunyai lidah yang sangat panjang (paling panjang dari semua jenis
beruang yang ada).
• lengan yang melengkung ke dalam, telapak yang tidak berbulu, dan kuku
yang panjang, (maka beruang madu sangat terdaptasi buat memanjat pohon)
• tangannya relatif besar dibandingkan dengan ukuran badan (kemungkinan
besar hal ini memudahkan beruang madu utnuk menggali tanah dan
membongkar kayu mati untuk mencari serangga)
Beruang Madu mempunyai penciuman yang sangat tajam sehingga dapat cium
bekas injakan satwa lain maupun manusia. Pengelihatan diduga biasa saja
sedangkan pendengarannya cukup peka.
PERSEBARAN:
Tidak banyak catatan mengenai persebaran jenis ini, baik secara historis maupun
saat ini. Namun demikian jenis ini telah dilihat diseluruh Asia Tenggara dari ujung
timur Hindia dan bagian utara Birma sampai ke Laos, Kamboja, Vietnam dan
Thailand sampai ke selatan di Malaysia, dan Pulau Sumatra dan Borneo. Ada
catatan historis yang menunjukkan bahwa beruang madu dulu terdapat di Tibet,
Bangladesh, dan beberapa wilayah di Hindia dan Cina dan di Pulau Jawa. Namun
demikian, persebaran beruang madu telah sangat mengecil sejak jaman dulu
dikarenakan kehilangan habitat dan perburuan. Beruang madu telah dianggap
punah di Tibet, kemungkinan punah di Hindia bagian timur (namun perlu dipastikan)
dan Bangladesh. Kemungkinan besar bahwa di Cina bagian selatan sisa populasi
tinggal sedikit ataupun sudah punah.
2
HABITAT:
Hutan hujan tropis merupakan habitat utama beruang madu. Kayu hutan tersebut
dinilai tinggi oleh manusia, dan sedang dikonversikan dengan cepat ke hutan
sekunder, perkebunan, pertanian, peternakan dan pemukiman. Malaysia dan
Indonesia merupakan pengekspor kayu keras tropis terbesar di dunia dan
kebanyakan ekspor tersebut berasal dari habitat beruang madu sehingga habitatnya
berkurang. Walaupun dampak spesifik terhadap persebaran, kepadatan dan jumlah
populasi dan kesediaan makanan belum diketahui dengan pasti namun sudah dapat
dipastikan bahwa dampaknya negatif. Kegiatan manusia yang diuraikan di atas
menggantikan hutan dataran rendah yang asli dengan hamparan lahan yang tidak
dapat dimanfaatkan beruang madu. Habitat yang dibutuhkan beruang menghilang
termasuk tumbuhan, serangga dan makanan lain yang dibutuhkan beruang. Oleh
karena makanan aslinya sudah tidak ada, terkadang beruang madu memakan
tanaman pertanian, terutama umbut kelapa, sehingga tanaman tersebut mati.
Beruang-beruang tersebut diburu dan sering dibunuh.

MAKANAN, POLA MAKAN, PERILAKU DAN PERAN DALAM HUTAN:
Beruang madu merupakan “omnivore” berartikan memakan banyak jenis makanan.
Makanan utamanya adalah serangga (terutama rayap, semut, larva kumbang dan
kecoak hutan). Yang kedua adalah banyak jenis buah-buahan, apabila tersedia.
Kalau beruang bisa dapat mereka sangat suka dengan madu, terutama dari jenis
kelulut (stingless bees). Terkadang memakan bunga tertentu. Rumput dan daun
hampir tidak pernah dimakan. Di pinggiran hutan beruang terkadang memakan
umbut jenis-jenis palem, dan kemungkinan terkadang memakan jenis mamalia kecil
dan burung. Kukunya yang panjang, tajam dan melengkung memudahkan beruang
madu untuk menggali tanah, membongkar kayu jabuk, dan rahangnya yang sangat
kuat membuat beruang sanggup membongkar kulit kayu guna mencari serangga
dan madu. Dengan lidah panjangnya mereka mengambil makanan yang lobanglobang yang dalam. Dalam satu hari seekor beruang madu berjalan rata-rata 8 km
untuk mencari makanannya.
Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak.
Setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran mulai tumbuh sehingga
beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan
buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis
lain. Perilaku mencari makan yang lain seperti pembongkaran sarang rayap di tanah,
kayu jabuk dan batang pohon hidup untuk mendapatkan madu, bermanfaat bagi
jenis satwa yang lain pula. Banyak burung yang ikut memakan serangga apabila
beruang sudah membongkar sarang atau kayu jabuk dan pembongkaran kayu
menyediakan lobang di batang pohon yang sering dimanfaatkan satwa lain untuk
berlindung ataupun berkembang-biak. Perilaku menggali dan membongkar juga
bermanfaat untuk mempercepat proses penguraian dan daur ulang yang sangat
penting untuk hutan hujan tropis.
SISTEM SOSIAL DAN SIFAT:
Keterangan yang ada tentang sistem sosial beruang madu yang liar masih sangat
terbatas dan berasal dari observasi kebetulan serta implikasi dari bentuk badannya.
Beruang madu diduga satwa yang bersifat soliter sama halnya dengan jenis beruang
lain. Beruang madu dianggap pemalu yang biasanya berusaha menghindari
berhadapan dengan manusia (dibantu penciuman yang tajam)
bahkan beruang lain. Mereka dapat berjalan sangat diam
sehingga gerakannya tidak kedengaran. Beruang madu mempunyai tubuh dan
stamina yang kuat dan sifat “pantang mundur” apabila dalam keadaan terancam
atau terkaget seperti halnya apabila terjerat. Maka timbul persepsi di masyarakat
bahwa beruang madu merupakan binatang “buas”, padahal di alam dia akan selalu
berusaha menghindari konflik kecuali terancam atau terganggu. Observasi beruang
di alam menunjukan bahwa beruang adalah satwa yang cerdas, lincah dan
mengajubkan.
Yang paling sering ditemui di hutan adalah betina dengan anaknya. Hampir semua
laporan tentang kelompok beruang menyangkut kelompok betina dan anaknya. Ada
beberapa laporan bahwa beruang madu dapat mengumpul dekat pohon buah
dimana buah sedang melimpah. Hampir setiap jam dari fajar sampai petang
dimanfaatkan untuk mencari makanan baik di tanah maupun di atas pohon,
terkecuali satu atau dua jam istirahat siang apabila panas. Pada umumnya beruang
madu tidur pada malam hari di atas atau di dalam batang kayu roboh, atau
terkadang di sarang yang di buat di atas pohon. Jenis beruang ini tidak memerlukan
“tidur panjang pada musim dingin” atau hibernasi dikarenakan makanannya tersedia
sepanjang tahun di habitat tropisnya. Penilitian jangka panjang pertama di dunia
terhadap beruang madu di alam yang dilakukan di Hutan Lindung Sungai Wain,
Balikpapan, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa rata-rata seekor beruang betina
memerlukan wilayah jelajah tidak kurang dari 500 Ha untuk hidup dalam setahun.
Sedangkan diperkirakan bahwa beruang madu jantan memerlukan wilayah jelajah
sekitar 1,500 Ha per tahun.
REPRODUKSI:
Pengetahuan mengenai perkembang-biakan beruang madu dan pengasuhan anak
di alam sangat terbatas. Biasanya hanya satu anak yang mendampingi betina.
Kembar jarang terlihat. Beruang madu betina hanya memiliki 4 puting susu
dibandingkan jenis beruang lain yang biasanya melahirkan beberapa anak dan
mempunyai enam puting susu. Rupanya beruang madu tidak mempunyai musim
kawin tertentu, mungkin karena musim buah dan ketersediaan makanan di alam
sangat bervariasi. Ada kemungkinan bahwa beruang madu, sama dengan jenis
beruang lain, mempunyai sistem alami untuk “menunda” perkembangan telur
(delayed implantation) sehingga dapat memastikan bahwa anak akan lahir pada
waktu induknya cukup gemuk, cuacanya baik dan ketersediaan makanan cukup.
Namun hal ini belum diketahui dengan pasti. Beruang madu melahirkan di dalam
batang kayu yang bolong atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi sehingga
cukup besar untuk mengikuti induknya dalam aktivitas sehari-hari. Informasi dari
Kebun Binatang menunjukkan bahwa perkembang-biakan beruang madu yang
dipelihara sangat sulit dan saat ini justru dihindari karena populasi di alam sudah
terancam kehilangan habitat sehingga usaha konservasi yang lebih diperlukan
adalah pelestarian habitat ketimbang penambahan populasi yang dipelihara.
ANCAMAN DAN STATUS KONSERVASI:
Di hutan alam Kalimantan dan Sumatra beruang madu yang dewasa dan sehat
hampir tidak dimangsa satwa lain, namun terdapat satu kasus dimana seekor betina
tua dan kecil dimakan ular sanca (Python reticulatus) yang berukuran panjang 7m.
Dapat diduga bahwa beruang madu yang kecil atau sakit dapat dimangsa macam
dahan dan ular. Walaupun beruang madu dewasa hampir tidak
mempunyai musuh di alam (di Kalimantan), Persatuan Konservasi
Dunia (IUCN) baru (April 2004) mengubah klasifikasi status konservasi beruang
madu dari “tidak diketahui karena kurang data” (Data deficient) ke “terancam”
(Vulnerable). Klasifikasi tersebut berartikan beruang madu terancam punah terutama
karena habitatnya berkurang terus-menerus. Di Indonesia beruang madu dilindungi
UU sejak 1973 (SK Mentan) diperkuat dengan Peraturan Pemerintah no.8 tahun
1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Faktor yang mengakibatkan berkurangnya populasi beruang madu termasuk:
pengrusakan dan fragmentasi hutan alam akibat ulah manusia; kebakaran hutan
yang merusak habitatnya; perburuan beruang madu untuk penggunaan bagian
badannya untuk obat tradisional, penangkapan untuk dijadikan satwa peliharaan;
dan pembunuhan beruang akibat peningkatan konflik antara beruang dengan
manusia di pinggir hutan. Hanya dalam beberapa tahun terakhir ini mulai dilakukan
penelitian mengenai biologi, ekologi dan perilaku di alam. Pelestarian beruang madu
harus difokuskan pada pelestarian serta pengelolaan habitatnya, penegakan status
hukum beruang madu (dilindungi di Indonesia – lihat di atas), pengurangan konflik
antar manusia dan beruang di sekitar kawasan hutan, serta penghentian
perdagangan beruang dan bagian tubuhnya.
CATATAN KHUSUS: BERUANG MADU DI KOTA BALIKPAPAN
Beruang madu merupakan satwa asli Balikpapan dan masih ada populasi asli yang
bertahan di Hutan Lindung Sungai Wain. Sejak dasawarsa enam puluhan hingga
sembilan puluhan HL Sungai Wain terancam oleh penebangan liar dan perambahan,
dan pada tahun 1998 hampir dimusnahkan kebakaran hutan yang luar biasa. Namun
zona inti hutan lindung tersebut berhasil diselamatkan berkat kerja keras peneliti
hutan berkerjasama dengan masyarakat sekitar. Dengan dibentuknya Badan
Pengelola Hutan Lindung Sungai Wain pada tahun 2001, Kota Balikpapan
mengambil alih pengelolaan Hutan Lindung Sungai Wain, dan sejak tahun 2002
semua kegiatan pengrusakan seperti penebangan, perambahan dan pembakaran
HL Sungai Wain berhasil dikendalikan sehingga masa depan HL Sungai Wain serta
populasi beruang madunya menjadi cukup cerah.
Penelitian pertama di dunia tentang beruang madu di alam dimulai pada tahun 1997
di Hutan Lindung Sungai Wain oleh peneliti asal Belanda, Gabriella Fredriksson dan
berlangsung hingga 2004. Sebelumnya perilaku beruang madu di alam, pola dan
jenis makanannya, tanda-tanda keberadaannya dan peran penting di dalam hutan
tidak diketahui dengan pasti. Maka Kota Balikpapan mempunyai ikatan khusus
dengan beruang madu. Lebih dari itu, penampilan beruang madu yang kekar, bersih,
cantik, kuat tetapi lincah, dan sifatnya yang mandiri, cerdas dan “pantang mundur”
merupakan ciri-ciri yang tersirat di Kota Balikpapan.

Sumber: http://www.beruangmadu.org/uploads/pdfs/sun_bear_facts_indo.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Beruang_madu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s