Konsep biomassa

Biomassa adalah jumlah bahan organic yang tedapat pada saat pengukuran, dinyatakan dalam berat kering persatuan luas areal (soekotjo 1076). Pengertian biomassa timbul karena manusia berusaha menilai suatau lingkungan hidup yang memungkinkan hidupnya mahluk hidup dan menaksir pertumbuhannya dalam suatu ekosistem ( Satoo dan Madgwick, 1982).
Menurut Dykstra dan patriawan (1976), biomassa suatu hutan dapat digunakan untuk menaksir kemampuan berproduksi hutan tersebut atau dengan diketahuinya besar biomassa suatu tegakan hutan, maka produktivitas hutan tersebut dapat diketahui. Ditinjau secara teoritis, produktivitas dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu produktivitas primer dan produktivitas sekunder. produktivitas primer adalah substansi organic yang diproduksi dengan jalan fotosisntesis dan kemosintesis oleh produsen. produktivitas sekunder adalah derajat penimbunan energy oleh produsen dan pengurai.
Lebih jauh dikemukakan oleh Satoo dan Madgwick (1982) bahwa produktivitas primer dlam suatu ekosistem adalah hasil sintesa bahan organic melalui fotosintesis oleh tumbuhan hijau. Total bahan organic yang diproduksi oleh fotosintesis disebut produktivitas kotor. Tumbuhan hijau mengkonsumsi hasil fotosintesis dlam jumlah yang besar untuk respirasi, sisa yang terdapat dalam tubuh tanaman disebut dengan produktivitas bersih.

Biomassa vegetasi hutan
1. Tumbuhan bawah dan tegakan.
Hutan dapat dicirikan dengan adanya akumulasi biomassa vegetasi yang terdiri dari biomassa tumbuhan bawah dan biomassa tegakan. Informasi mengenai jumlah biomassa telah banyak dipublikasikan, tetapi tidak demikian halnya mengenai jumlah biomassa tumbuhan bawah. Menurut Satoo dan Madgwick (1982), biomassa tumbuhan bawah baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif dipengaruhui oleh keadaan tegakan dimana tumbuhan bawah itu terdapat. Peningkatan jumlah biomassa komponen daun tegakan akan menyebabkan penurunan biomassa komponen yang sama dari tumbuhan bawah. Dikemukakan pula bahwa biomassa tumbuhan bawah jumlahnya dapat mencapai 27% dari jumlah biomassa total (tumbuhan bawah dan tegakan). Dengan demikian, kehadiran tunbuhan bawah perlu diperhatikan dalam penaksiran produktivitas ekosistem hutan.
Bagian terbesar dari biomassa hutan adalah berupa batang-batang pohon yang menyusun tegakan yang se benarnya merupakan hasil akumulasi produktif bahan organic selama bertahun-tahun. Dengan demikian umur tegakan akan mempengaruhijumlah biomassa tegakan tersebut. Dikemukakan oleh Satoo (1968), bahwa hubungan yang lebih erat antara jumlah biomassa tegakan denga umur tegakan akan diperoleh bila tegakan-tegakan tersebut tumbuh pada suatu kondisi pertumbuhan yang sama. Dlam suasana seperti ini biomassa tegakan dapat dinyatakan sebagai fungsi dari umur.
Dikemukakan lebih jauh oleh BASKERVILLE (1966) serta KEYES dan GRIER (1981) bahwa biomassa tegakan hutan dipengaruhi pula oleh kerapatan tegakan dan kualitas tempat tumbuh. Tegakan yang makin rapat jarak tanamnya akan mempunyai biomassa yang semakin besar.
2. Batang
Pengukuran biomassa tegakan hutan memerlukan waktu dan biaya yang besar sehingga menyebabkan terbatasnya informasi yang tersedia samapai saat ini pengetahuan mengenai pertumbuhan dan volume batang sangat diperlukan dalam praktek-praktek kehutanan. Data mengenai volume tegakan seringkali diplublikasikan dalam bentuk tabel hasil. Seandainya terdapat korelasi yang sangat erat antara biomassa tegakan dna biomassa batang pohon yang menyusun tegakan, maka penaksiran biomassa tegakan dapat dilakukan dengan cara mengalikan volume batang dalam tegakan dengan suatu factor konversi. Adanya hubungam antara volume batang dengan biomassa total tegakan telah dideterminasi pada hutan fagus crenata (Satoo,. 1970). Dari penelitian ini diketahui bahwa biomassa total tegakan tersebut dapat ditaksir dengan cara mengalikan volume batang denga factor konversi sebesar 1,3 dalam satuan ton/Ha.

3. Cabang
Setiap tahun sejumlah cabang tua akan mati dan sebaliknya sejumlah cabang muda akan terbentuk. Sebagian dari cabang-cabang mati akan jatuh kepermukaan tanah, sedangkan sisanya tetap pada pohon. Menurut Satoo dan Madgwick (1982), pola jatuhnya cabang-cabang mati ini berbeda untuk setiap jenis pohon. Dikemukakannya pula bahwa jumlah material cabang hidup dipengaruhi oleh banyak factor yang sangat bervariasi untuk setiap tegakan hutan.
Biomassa cabang akan meningkat sesuai dengan peningkatan biomassa tegakan secara keseluruhan. Peningkatan ini walaupun ada kaitannya dengan umru tegakan, tetapi diketahui banyak terjadi pada fase-fase awal pertumbuhan dan berubah menjadi relative stabil pada saat tegakan mencapai umur setengah dari daurnya. Walaupun umrunya sama, tegakan yang tumbuh pada kondisi tempat tumbuh yang lebih baik akan mempunya biomassa cabang yang lebih besar.
Pada hutan-hutan dengan kerapatan yang tinggi, maka kompetisi diantara pohin-pohon secara individu akan terjadi dengan hebat dan mengakibatkan cabang-cabang bagian bawah lebih cepat mati bila dibandingkan dengan cabang-cabang pohon-pohon lainnya yang mempunyai kerapatan tegakan yang lebih kecil. Biomassa cabang akan mencapai titik equilibrium pada saat pembentukan cabang-cabang baru seimbang dengan gugurnya daun yang mati.
Namun demikian apabila tegakan ini menerima perlakuan penjarangan atau pemangkasan, maka titik equilibrium akan sulit dicapai dan biomassa cabang tegakan tersebut akan lebih kecil jumlahnya dibandingkan dengan biomassa cabang tegakan yang tidak dipelihara. Karena kematian dan gugrnya cabang-cabang pohon umumnya terjadi pada cabang-cabang berukuran besar pada posisi tajuk bagian bawah, ditambah pula dengan adanya tindakan-tindakan pemangkasan, maka hubungan antara biomassa cabang dengan biomassa total akan sangat bervariasi.

4. Daun
Selama bertahun-tahun pendapat MOLLER (1945) mendominasi pemikiran-pemikran para ahli tentang biomassa daun. MOLLER menyimpulkan bahwa biomassa daun merupakan peubah bebas yang tidak dipengaruhi oleh factor-faktor tempat tumbuh, umru dan kerapatan tegakan. Dengan dilakukannya riset-riset serupa secara lebih intensif ajkhirnya terbukti bahwa kesimpulan yang dihasilkan MOLLER sebenarnya didasarkan atas data yang diperoleh melalui cara-cara estimasi denga menggunakan bentuk persamaan yang disimpulkan dari studi-studi peneliti lain ditempat yang lain pula. Untuk mengkaji adanya pengaruh-pengaruh vriabel-variabel lingkungan ataupun perlakuan-perlakuan pemeliharaan tegakan tehadap jumlah biomassa daun, memang informasi mengenai metoda yang digunakan dalam penaksiran biomassa daun tersebut teramat penting artinya.
Pada sebagian studi, penaksiran biomassa daun ini dilakukan dengan caramenarik sejumlah pohon contoh yang diambil dari berbagai plot pengukuran. Data rata-rata dari jumlah biomassa daun yang diperoleh pada tiap plot selanjutnya dipakai untuk manaksir biomassa daun seluruh tegakan dalam blok yang diteliti.
Studi-studi lainnya dalam menaksir biomassa daun, dilakukan dengan menggunakan suatu bentuk persamaan umum, kadang-kadang dari berbagai literature yang biasanya merupakan persamaan regresi antara massa daun dengan diameter pohon, sehingga mengabaikan kemungkinan adanya variasi tumbuh. Cara penaksiran yang terakhir inilah yang digunakan oleh MOLLER sehingga dari penelitiannya ia menghasilkan suatu kesimpulan yang keliru.
MONSI dan SAEKI (1953) menyatakan bahwa dengan meningkatnya massa daun pada komunitas tegakan maka konsumsi fotosintesis bagi daun untuk respirasi akan meningkat pula. Dengan demikian aka nada suatu jumlah optimumdari massa daun yang menghasilkan produksi yang maksimum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s