Prospek Tumbuhan Obat

Pada tahun 1999, pemerintah telah mencanangkan visi “Indonesia Sehat 2010” sebagai inspirasi dalam pembangunan nasional di bidang kesehatan dimana misi dan sasarannya antara lain mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap obat dan bahan baku obat konvensional impor yang nilainya mencapai US$ 160 juta per tahun, sehingga perlu dicarikan substitusinya dengan produk industri dalam negeri. Sementara itu, isu yang terpapuler pada masyarakat konsumen dunia yang menuntut pangan dan produk kesehatan yang aman dengan slogan ”back to nature” yang menunjukkan perubahan pesat yang terjadi di Indonesia sendiri. Pengembangan obat bahan alam khas Indonesia yang dikenal sebagai “jamu”, tanaman obat menjadi komponen utamanya, memiliki arti strategis dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat dan kemandirian Indonesia di bidang kesehatan. Dalam konteks demikian, pengembangan tanaman obat juga menjadi penting dalam program “Revitalisasi Pertanian” yang dicanangkan Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan meletakkan landasan yang kokoh bagi pembangunan ekonomi (Rosyidah, 2010).
Saat ini pengobatan dengan menggunakan obat bahan alam semakin banyak digunakan. Hal ini dapat disebabkan oleh harga obat modern yang semakin mahal dan dapat pula disebabkan karena semakin banyaknya orang yang percaya akan keunggulan dan manfaat obat bahan alam. Tidak hanya di Indonesia, diseluruh dunia dalam 20 tahun terakhir ini penggunaan obat bahan alam semakin meningkat. Berarti bukan lagi sekedar ”back to nature” tetapi karena obat bahan alam sudah merupakan sumber layanan kesehatan yang mudah diperoleh dan terjangkau oleh masyarakat (Setyorini, 2009).
Di wilayah Indonesia terdapat sekitar 30.000 jenis tumbuhan dan 7.000 di antaranya ditengarai memiliki khasiat sebagai obat. Indonesia merupakan negara terbesar kedua yang menghasilkan bahan baku obat tradisional. Ini merupakan kekayaan keanekaragaman hayati bangsa Indonesia. Potensi keanekaragaman hayati ini seharusnya dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Industri obat tradisional seharusnya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan sekaligus bersaing di pasar internasional (Setyorini, 2009).
Obat tradisional sudah sejak tahun 1992 diatur dalam Undang-Undang RI No. 23 tentang Kesehatan. Kemudian didukung oleh SK menteri Kesehatan No. 1076 tahun 2003 tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional. Hal ini membuktikan bahwa kebijakan kesehatan di Indonesia tentang layanan kesehatan masyarakat sudah memperhatikan obat tradisional. Hal ini dimungkinkan karena melihat kenyataan bahwa pasar obat herbal di Indonesia terus meningkat dari Rp 1,3 trilyun pada tahun 2001 menjadi sekitar Rp 2,5 trilyun pada tahun 2005. Pertumbuhan pasar obat herbal Indonesia selama 5 tahun terakhir rata-rata sekitar 15% dan sebagian besar masih dipasarkan di dalam negeri (Setyorini, 2009).
Industri obat tradisional juga memiliki potensi ekonomi, yakni mampu membuka lapangan kerja bagi sekitar 3 juta orang dan menyumbang sekitar Rp 4 triliun rupiah untuk pendapatan negara (Setyorini, 2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s