Uji Toksisitas

Uji toksisitas dimaksudkan untuk memaparkan adanya efek toksik dan atau menilai batas keamanan dalam kaitannya denganpenggunaan suatu senyawa. Pengukuran toksisitas dapat ditentukan secara kuantitatif yang menyatakan tingkat 
keamananddan tingkat berbahaya zat tersebut (Baraja, 2008).

Petunjuk toksisitas yang dapat digunakan untuk evaluasi toksikologi adalah dengan menggunakan kematian sebagai bentuk untuk memperkirakan dosis lethal yang mungkin terjadi pada manusia (Purwatiningsih, 2003).  Brine Shrimp Lethality
 Test (BSLT) merupakan salah satu metode skrining untuk menentukan ketoksikan suatu ekstrak ataupun senyawa.  
Kematian Artemia salina Leach digunakan sebagai parameter untuk menunjukkan adanya kandungan zat aktif tanaman yang 
bersifat sitotoksik.  Apabila harga LC50 ; 1000 μg/mL ekstrak tersebut dapat dikatakan toksik.  Bila kematian sebagai responnya, maka dosis penimbul kematian pada 50% populasi dengan jenis yang sama dalam waktu spesifik dan kondisi 
percobaan sesuai diistilahkan sebagai Median Lethal Dose  atau LD50.  Obat yang diberikan sebagai konsentrasi 
diistilahkan sebagai Median Lethal Concentration atau LC50  (Hendrawati, 2009).

Keuntungan dari metode BSLT adalah peka, cepat, sederhana dan dapat diulang tanpa terjadi penyimpangan 
(Baraja, 2008). Jika toksik dengan udang renik pertama kali dilakukan oleh Michael et al.,(1956) dan kemudian 
dikembangkan oleh Sleet dan Brendel (1983).  Pengujian tersebut berdasarkan kemampuan suatu bahan untuk mematikan 
udang renik yang dikulturkan di laboratorium.  Uji perlakuan tersebut disebut uji toksisitas.  Selain itu  uji 
toksisitas dilakukan untuk mengetahui tingkat keamanan dan bahaya zat yang dicoba terhadap hewan percobaan.  
Uji toksisitas senyawa terhadap hewan percobaan dilakukan sebelum senyawa tersebut digunakan pada manusia (Purwatiningsih, 2003).

Selain itu uji BSLT ini juga merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menapis awal senyawa-senyawa 
yang berkhasiat sebagai anti kanker.  Uji BSLT ini merupakan pengujian tahap awal dalam sifat toksik pra klinik.  
Metode ini memiliki keuntungan antara lain waktu pelaksanaan cepat, biaya relatif murah, pengerjaan sederhana, 
telur tetap hidup dalam kondisi kering selama beberapa tahun.  Besarnya toksisitas diketahui berdasarkan jumlah kematian larva akibat ekstrak.  Senyawa bersifat toksik bila memiliki LC50 (konsentrasi yang mampu mematikan 50% larva 
udang) < 1000 mg/ml (Meyer et al., 1982).

Menurut Mudjiman (1989), klasifikasi Artemia salina adalah :

Filum   : Arthropoda

Kelas   : Crustacea

Subklas : Branchiopoda

Ordo    : Anostraca

Famili  : Artemiidae

Genus   : Artemia

Jenis   : Artemia salina Leach

Artemia salina Leach adalah udang tingkat rendah yang hidup sebagai zooplankton. Artemia pada tahun 1778 diberi nama cancer salinus, yang kemudian diubah menjadi Artemia salina (Leach, 1819). Telur yang siap menetas berwarna coklat keabu- abuan. Untuk media penetasan dapat digunakan air laut biasa 
(kadar garam ± 30 permil).  Tapi untuk mencapai hasil penetasan yang lebih baik, kita perlu menggunakan air berkadar garam 5 permil.  Ini dapat dibuat dengan mengencerkan air laut dengan air tawar.  
Sebelum ditetaskan telur-telur tersebut perlu dicuci terlebih dahulu, yakni dengan direndam di dalam air tawar selama 1 jam, 
baru kemudian dimasukan dalam wadah penetasan.  Suhu air yang baik selama proses penetasan adalah antara      
25 – 30 °C kadar oksigennya harus lebih dari 2 mg/L.  Untuk merangsang proses penetasannya media penetasan tersebut 
perlu disinari dengan lampu yang dipasang di samping wadah.  Dalam waktu 24 – 36 jam setelah pemasukan telur, 
biasanya telur-telur itu sudah menetas menjadi anak Artemia yang dinamakan nauplius (Baraja, 2008).

Suatu metode uji hayati yang tepat dan murah untuk skrining dalam menentukan toksisitas suatu ekstrak tanaman aktif 
dengan menggunakan hewan uji Artemia salina Leach.  Artemia sebelumnya telah digunakan dalam   
bermacam-macam uji hayati seperti uji pestisida, polutan, mikotoksin, anestetik, komponen seperti morfin, 
kekarsinogenikan dan toksikan dalam air laut. Uji dengan organisme ini sesuai untuk aktifitas farmakologi dalam 
ekstrak tanaman yang bersifat toksik.  Penelitian menggunakan Artemia salina memiliki beberapa
Keuntungan antara lain cepat, mudah, murah dan sederhana.  Penelitian dengan larva Artemia salina Leach telah 
digunakan oleh Pusat Kanker Purdue, Universitas Purdue di Lafayette untuk senyawa aktif tanaman secara umum dan 
tidak spesifik untuk zat anti kanker.  Namun demikian hubungan yang signifikan dari sampel yang bersifat toksik 
terhadap larva Artemia salina Leach ternyata juga mempunyai aktifitas sitotoksik.  Berdasarkan hal tersebut maka 
larva Artemia salina Leach dapat digunakan untuk uji toksisitas (Meyer et al., 1982).

Sumber: Bahan Ajar Fakultas Kehutanan Unmul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s