Habitat Gajah Kalimantan

Habitat adalah tempat dimana organisme berinteraksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi (Hugget, 2003). Menurut Alikodra (1989) habitat merupakan kawasan yang terdiri dari komponen fisik dan biotik, yang merupakan satu kesatuan dan dimanfaatkan oleh satwaliar untuk tempat hidup dan berkembang biak. Habitat merupakan hasil interaksi dari komponen fisik dan komponen biotik. Komponen fisik terdiri atas: air, udara, iklim, topografi, tanah dan ruang; sedangkan komponen biotik terdiri atas: vegetasi, mikro fauna, makro fauna dan manusia (Alikodra 2002).
Satwaliar menempati suatu habitat sesuai dengan lingkunganya yang diperlukan untuk mendukung habitatnya. Habitat yang sesuai bagi satu jenis belum tentu sesuai dengan untuk jenis lainnya, karena setiap jenis satwaliar mengkehendaki kondisi habitat yang berbeda-beda, salah satunya adalah Gajah Kalimantan.
Menurut Wullfraat (2007) faktor-faktor yang menentukan habitat yang sesuai bagi Gajah Kalimantan adalah; topografi, geomorfologi, jenis hutan dan ketersediaan kandungan garam.
1. Topografi
Sebagian besar Sebuku memiliki ketinggian lebih rendah dari 100 m di atas permukaan laut (dpl). Seluruh daerah sebelah timur terdiri dari tanah rendah dan tanah rawa dengan ketinggian yang sangat rendah. Banyak diantara dataran tanah-tanah rendah di sebelah timur ini, khususnya tanah-tanah yang lebih kering di utara Sungai Sebuku, menjadi habitat yang sangat cocok bagi gajah.
Lembah-lembah sungai Sibulu, Tampilon, Apan, Agison dan Kapakuan sampai jauh ke pegunungan dan perbukitan cukup datar dan memiliki ketinggian yang rendah. Tempat-tempat serupa ini sangat disukai oleh kelompok gajah.
2. Geomorfologi
Geomorfologi wilayah Sebuku merupakan hal terpenting sebagai suatu faktor penentu bagi habitat dan koridor yang cocok untuk gajah. Gajah-gajah biasanya menghindari lereng-lereng yang sangat curam. Dibandingkan dengan gajah-gajah Sumatra, gajah-gajah Borneo lebih pandai beradaptasi berjalan di bukit-bukit dan lereng-lereng, akan tetapi tanah-tanah lapang yang paling sesuai untuk mereka tetaplah dataran dan lembah-lembah sungai yang datar.
3. Kaolin dan kandungan garam (salt licks)
Mengasin (salt lick) merupakan salah satu tingkah laku gajah dalam pemenuhan garam mineral. Kegiatan ini sangat penting untuk membantu proses metabolisme dan menjaga keseimbangan konsentrasi ion dalam tubuhnya serta melancarkan proses pencernaan makanan. Pemenuhan kebutuhan garam yang dilakukan gajah biasanya diikuti dengan aktivitas lainnya, seperti; mencari makan minum dan berkubang.
Ketersediaan kaolin bisa menjadi satu faktor kendala sehingga gajah-gajah tidak dapat hidup di daerah-daerah dimana mineral ini tidak dapat dikonsumsi dalam waktu beberapa hari berjalan. Kaolin mungkin sangat diperlukan oleh gajah-gajah ini untuk menyerap racun tanaman. Kaolin digunakan oleh manusia untuk menyembuhkan sakit perut. Kaolin mineral (AL2Si2O5(OH)4) biasanya benar-benar putih kecuali bila tercemar logam.
Kaolin ialah bahan endapan (sedimentasi). Bahan-bahan endapan seperti batu pasir merupakan bahan dasar permukaan kawasan luas Borneo. Bahan induk kaolin ialah feldspar. Ini merupakan komponen terbesar batu-batu granit, yang mana penyebaran permukaan atau dekat permukaan di Borneo terbatas. Feldspar mungkin juga ditemukan di batuan metamofik, yang jauh lebih umum di Borneo, tetapi tidak selalu harus merupakan hasil proses metamorfik. Gajah-gajah juga memanfaatkan mata air asin untuk mendapatkan beberapa mineral penting. Sumber garam ini tersebar luas diseluruh bagian dalam Borneo dan didatangi oleh banyak binatang berbeda. Mata air asin yang sering dikunjungi gajah terdapat di hulu sungai Sibuda dan di mata air ini tidak ada tanah kaolin.
4. Tipe hutan
Habitat utama Gajah Kalimantan meliputi hutan dipterokarpa dataran rendah, hutan dipterokarpa perbukitan, hutan tepian sungai, hutan pegunungan rendah dan hutan rawa. Akan tetapi, tipe hutan yang paling banyak dimanfaatkan Gajah Kalimantan untuk keberlangsungan hidupnya adalah tipe hutan dipterokarpa dataran rendah, hutan dipterokarpa perbukitan dan hutan tepian sungai. Hal ini dikarenakan, tumbuhan herba banyak berkembang di lantai tipe hutan tersebut, kebanyakan tumbuhan tersebut dimakan oleh Gajah Kalimantan seperti pisang liar dan rumput-rumputan yang merupakan merupakan makanan favorit gajah, dan jumlahnya pun melimpah. Sedangkan, pada hutan pegunungan rendah tumbuhan pakan untuk gajah relatif sedikit atau kurang sesuai pada tipe hutan pegunungan dan juga topografinya yang curam sehingga hutan pegunungan rendah kurang sesuai untuk habitat gajah.
Hutan-hutan rawa gambut adalah habitat yang kemungkinan besar cocok bagi gajah, khususnya gundukan-gundukan yang lebih tinggi. Akan tetapi, sejauh ini gajah Gajah Kalimantan belum pernah mencapai hutan rawa gambut yang luas di bagian sebelah timur wilayah Sebuku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s