Klasifikasi, Sejarah Ekologi dan Morfologi Gajah Kalimantan

Klasifikasi taksonomis dari Gajah Kalimantan menurut IUCN (2013) adalah sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Mamalia
Bangsa : Proboscidea
Keluarga : Elephantidae
Marga : Elephas
Jenis : Elephas maximus

Bukti fosil gigi yang kemudian ditemukan membuktikan bahwa gajah memang berasal dari pulau ini dan hidup sejak jaman Pleistocene (Yasuma, 1994; Groves, 1992 dalam MacKinnon dkk., 2000 dan Anonim, 2012). Hal ini kemudian diperkuat setelah dilakukan tes DNA oleh Fernando dkk (2003), terdapat bukti bahwa gajah Kalimantan secara signifikan berbeda dengan gajah lainnya di Asia maupun Afrika. Gajah Kalimantan diperkirakan sudah terpisah dari populasi gajah lain di daratan Asia dan Sumatera sekitar 300.000 tahun silam, menunjukkan bahwa gajah-gajah tersebut asli dari Kalimantan. Disebutkan bahwa populasi-populasi gajah tersebut menyeberang ke Pulau Kalimantan dari daratan Asia pada masa Pleistocene. Pada masa itu permukaan air laut masih rendah, sementara Kalimantan dan Asia masih dihubungkan dengan daratan rendah. Gajah dapat leluasa bergerak ke wilayah luas yang sekarang disebut Kalimantan. Tetapi ’jembatan darat’ itu terputus saat es mencair. Permukaan air laut naik dan gajah-gajah yang terlanjur berada di Kalimantan tidak dapat lagi kembali ke tanah leluhurnya. Gajah ini dikenal sebagai sub-spesies gajah Asia ke-empat setelah sub-spesies gajah Sumatera, India dan Srilanka, yang dikenal juga sebagai Elephas maximus borneensis atau yang lebih populer dengan sebutan Gajah Kerdil Kalimantan (Bornean pygmy elephant) (Saturi, 2012).
Akan tetapi, bukan hanya DNA saja yang menunjukkan perbedaan antara gajah kerdil Kalimantan dan sub spesies-sub spesies lainnya, tetapi beberapa karakter morfologi tubuh Gajah Kalimantan ternyata juga berbeda dengan kerabatnya di Asia. Gajah Kalimantan (Gambar 1) bertubuh paling mungil dibandingkan gajah Asia lainnya yaitu hanya 30% lebih kecil dari gajah Asia lainnya. Menurut Rasid (dalam Putra 2008), gajah jantan memiliki tinggi badan antara 1,7-2,6 m dan tinggi gajah betina antara 1,5-2,5 m. Wulffraat dkk. (2007) kemudian menyebutkan bahwa bentuk tubuh Gajah Kalimantan lebih bulat, ekor panjang hampir ke tanah, gading lebih lurus, kepala bagian dorsal terdapat cekungan di bagian tengahnya, serta lebih teradaptasi untuk hidup di daerah perbukitan. Harto (dalam Putra 2007) menambahkan bahwa Gajah Kalimantan mempunyai telinga lebih besar dan berkulit abu-abu kehitaman. Sementara itu, Putra (2008) telah mendeskripsikan penciri kelas umur Gajah Kalimantan berdasarkan pertemuan dengan jejak. Ukuran rata-rata panjang jejak kaki depan individu dewasa adalah 53 cm, lebar rata-rata 41,5 cm dan untuk panjang jejak kaki belakang adalah 58 cm dan lebar rata-rata jejak kaki belakang kelas umur dewasa adalah 43 cm, panjang tapak kaki depan individu remaja adalah 42 cm dengan kisaran 35-49 cm, lebar rata-rata 30,7 cm dengan kisaran 18-39 cm dan untuk panjang jejak kaki belakang adalah 43 cm dengan kisaran 39-48 cm dan lebar rata-rata jejak kaki belakang kelas umur remaja adalah 32,25 cm dengan kisaran 28-38 cm dan ukuran rata-rata panjang jejak kaki belakang individu anak adalah 16 cm dan lebar rata-rata jejak kaki belakang kelas umur anak adalah 12 cm.

599603_481505095209660_34738172_n.jpg

Gambar 1. Gajah Kalimantan di Kecamatan Tulin Onsoi (Elephas maximus borneensis) (Suba dkk, 2012)

Perbedaan-perbedaan morfologis setidaknya dapat menjelaskan keseluruhan proses evolusi dan adaptasi ekologisnya terhadap kondisi lingkungan tertentu (Primack, 2004 dalam Suba, 2013). Di Kalimantan tidak ada binatang buas yang memangsa gajah sehingga gajah tak perlu ’berevolusi’ dengan bertubuh besar untuk menakut-nakuti musuhnya, sangat berbeda bila dibandingkan dengan gajah di Sumatera atau India yang selalu terancam oleh harimau dan di Afrika yang selalu terancam oleh singa. Di Kalimantan, gajah menjadi lebih tenteram hidupnya. Macan dahan dan beruang madu sebagai karnivor terbesar dan ’predator puncak’ di Kalimantan mungkin tidak memangsa anak gajah sekalipun. Selain itu, Gajah Kalimantan nampaknya lebih teradaptasi untuk hidup di daerah perbukitan, bentang alam yang lebih dominan di Ulu Sebuku-Sembakung (Wulfraat, 2007).
Selama bertahun-tahun lamanya sebenarnya orang percaya bahwa Gajah Kalimantan bukan satwa asli Kalimantan. Sebuah laporan terbaru berjudul “Origins of the Elephants of Kalimantan (Elephas maximus L.)” yang diterbitkan dalam Sarawak Museum Journal kembali menguatkan keyakinan tersebut (Anonim, 2008). Dalam publikasi itu dinyatakan bahwa populasi gajah yang kini hidup liar dan hanya terbatas pada kawasan sempit di negara bagian Sabah, Malaysia, terutama daerah Sungai Sugut di timur laut Sabah, kemungkinan merupakan sub spesies yang telah punah di tempat asalnya Pulau Jawa, dan secara tidak sengaja berhasil diselamatkan dari kepunahan oleh Sultan Sulu (sekarang Filipina) beberapa abad lalu. British East India Trading Company (kongsi perdagangan Inggris di Hindia Timur) menghadiahkan gajah-gajah itu kepada Sultan Sulu pada tahun 1750, yang kemudian ditelantarkan di hutan Kalimantan (Anonim, 2008). Pengiriman gajah lewat kapal dari satu tempat ke tempat lain di Asia telah berlangsung sejak beberapa ratus tahun yang lalu, biasanya sebagai hadiah untuk para penguasa (Soon dalam Anonim, 2008).
Apabila Gajah Kalimantan memang berasal dari Jawa, yang berjarak lebih dari 1.200 km, dapat dikatakan bahwa peristiwa perpindahan satwa ini merupakan translokasi gajah pertama dalam sejarah yang dapat bertahan hingga ke zaman modern sekarang ini. Bukti berupa tes DNA yang menunjukkan kemungkinan bahwa Gajah Kalimantan secara genetik berbeda dari sub spesies gajah di Sumatera atau daratan Asia lainnya juga mengarahkan pada suatu anggapan bahwa baik Kalimantan maupun Jawa merupakan daerah asal yang paling memungkinkan bagi gajah Kalimantan. Akan tetapi, tidak adanya bukti arkeologis yang cukup meyakinkan, hanya berupa fosil gigi, mengenai keberadaan gajah dalam jangka panjang di Kalimantan, memperkuat kemungkinan asal-usul satwa besar ini berasal dari Jawa. Seekor gajah betina dan seekor gajah jantan yang keduanya subur dan dibiarkan tak terganggu di habitat yang cukup baik dapat menghasilkan sebuah populasi gajah sebanyak 2.000 ekor selama kurang lebih 300 tahun. Hal inilah yang kemungkinan terjadi di Kalimantan pasca translokasi (Anonim, 2008).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s